Selasa, 05 Mei 2020

Pemuda Masa Corona

Sumber images : https://www.matakota.id/uploads/images/news/1581073203871.jpg


Oleh : Tanaka Ketua PR IPNU Desa Sutopati


Hahahaha mari tertawa bersama untuk negeri

Untuk kelucuan dimasa ini yang teramat ngeri

Dimana jutaan pemuda sedang merasa tak takut mati

Melihat keadaan dari keputusan yang membuat keadaan tanpa kendali

 

 Bung!! generasi pemuda yang kau inginkan sedang berperang

 Hadapi virus sialan yang sengaja di lepaskan

 Hadapi putusan seorang pembantu yang mengaku lidah jutaan orang

 Virus dari sampah yang sudah tak di perlukan dalam kehidupan

 

Bung !! Aku salah satu dari jutaan

Yang mengejar sampah layaknya berburu babi hutan

Tonggak kecil bekas sisa rumput gajah bersaksi

Dari tetes asin keringat ketika kami kejar si babi

Menyebalkan bung!!

 

 Harusnya kami datang ke surau dengan gembira

 Sial nasib ini bung!!

 Harusnya kami berteriak saur saur saur di sebuah mushola

 Tragis sekali bung!!

 

 Ketika kami ingin tidur dan justru 24 jam kami terjaga

 Kami lelah bung !!

 Tapi kami tidak siap menerima kabar dari seoraang tetangga kehilangan harta

 Kami menggila bung!!

 Saat nyawa lebih kami murahkan dari tabung gas 3 kiloan


Redaktur Kartika News


Minggu, 29 Juli 2018

KENAPA AKU ADA?
Ananda kun Masrokhati
   Kenapa aku ada jika aku hanya diremehkan?, kenapa aku ada jika aku tak pernah dianggap?, kenapa aku ada jika aku tak pernah merasakan kasih sayang?, kenapa aku ada jika aku harus kehilangan semuanya?, kenapa aku ada?.
            Aku tak pernah tau seberapa pentingnya aku di dunia ini, kejadian beberapa tahun silam itu membuatku benar-benar tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun, terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali..
***
            “KINAN!, sudah berapa kali kakak bilang jangan mainan di sungai,kalau tercebur bagaimana?”. Aku hanya diam dan menunduk kakak selalu marah jika aku bermain di sungai, “Maafin Kinan kak Ely,tapi main di sungai itu asik”.
“Kamu masih ngeyel ya di bilangin,kalau kamu hanyut bagaimana?”. Muka kak Ely masih merah padam memarahiku.
“Kan aku tidak sendiri,ada Bagas dan Eri”. Aku masih menunduk.
“Mereka itu laki-laki Kinan,bisa berenang kalau mereka hanyut,sedangkan kamu dikolam renang anak-anak saja kamu tidak bisa berenang”.
“Maafkan Kinan kak, Kinan janji nggak bakal main di sungai lagi”. Kak Ely berlalu meninggalkanku.
Rasa bersalah sealalu ada jika kak Ely memarahiku, dia sangat menyayangi aku dan Ayla adikku yang baru berusia 2 tahun, kak Ely sangat bertanggungjawab dengan adiknya,karena Ibu harus bekerja setelah ayah meninggal.
Jadi,kak Ely yang merawatku dan Ayla,kak Ely ingin sekali kuliah tapi Ibu tidak punya biaya kak Ely juga bekerja bikin kue dan menjualnya di kantin sekolahku dan SMA tempat kak Ely sekolah dulu,Ibu selalu pulang larut malam bekerja di pabrik kayu di kota,gajinya tidak seberapa hanya cukup membiayai aku dan makan sehari-hari.
***
            Aku termenung di dalam kamarku sambil melihat bintang dari jendela kamarku, Ayla sudah tidur pulas di sebelahku, aku melangkah perlahan mendekati lagi jendela kamarku sambil bersandar di kusen jendela, aku rindu ayah dan aku rindu tidur bersama Ibu, tak terasa air mataku menetes perlahan dipipiku.
Ssssssstttt!!!, aku mendengar suara dari arah semak-semak, aku segera mengusap air mataku dan melihat tajam kearah semak-semak itu. “KINAN!”. Aku terperanjat ternyata itu Bagas, ulahnya selalu mengagetkanku, Bagas adalah teman satu kelasku dia sangat baik dan selalu menghiburku disaat aku sedih.
“Ada apa Gas?,kamu selalu mengagetkanku”. Perlahan aku membuka pintu jendela kamarku.
“Aku tau kamu kalau malem kaya gini suka nangis, Ayla udah tidur?”. Bagas menengok kearah kamarku. Aku hanya mengangguk karena itu kebiasaanku setiap malam.
“Oh ya, besok ikut aku yuk?”. Bagas berusaha menghiburku.
“Kemana?”. Aku hanya menjawab pendek.
“Pokoknya ikut aja,nggak usah banyak tanya”. Aku hanya mengangguk.
“Ya sudah aku pulang dulu ya Nan,jangan lupa besok”. Bagas menunjukkan jempolnya kearahku lalu berlari meninggalkan jendela kamarku.
Aku menutup jendelaku rapat-rapat,aku menengok kearah jam di meja,pukul 21.00,mataku sudah mulai berat, aku membenarkan selimut dan sekejap mataku sudah tertutup rapat.
***
            Dalam setiap malam aku selalu bertanya kenapa aku ada?, kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
Aku kehilangan keluargaku di usia 10 tahun, terlalu kecil untuk menanggung beban kehidupan, terlalu kecil untuk mengerti tentang kerasnya kehidupan. Aku terisak di jendela kamarku sambil melihat bintang berkelip di langit, aku rindu Ayah,Ibu, kak Ely sedang apa mereka?.
***
            Aku memeluk Ayla sebelum berangkat sekolah, dia selalu tertawa ketika aku sedang mengikat sepatu,mungkin terlihat lucu karena aku tidak bisa mengikatnya.
“Kamu itu sudah besar Kinan,sudah kelas 3 masa mengikat sepatu saja tidak bisa”. Kak Ely menahan tawa sambil mengikat sepatuku, aku hanya nyengir tidak berdosa.
“Kata Ibu pulang sekolah langsung pulang jangan main”. Aku hanya diam tidak bilang tidak ataupun mengangguk, kak Ely menyerahkan kue untuk dijual di kantin sekolah.
“KIIINAAAANNNNN!! Ayo berangkat”. Dan seperti biasa Bagas selalu menghampiriku untuk berangkat sekolah bersama.
“Aku berangkat dulu ya kak”. Aku mencium tangan kak Ely dan pipi menggemaskan Ayla.
Bagas membisikkan sesuatu ditelingaku “Nan,nanti jangan lupa ya?”.
“Iya tapi nanti aku harus pulang dulu”. Bagas mengacungkan jempolnya kearahku, aku tersenyum membalasnya.
            Pulang sekolah aku buru-buru sampai kerumah,menyerahkan uang hasil jualan tadi,berganti baju dan pamit untuk pergi.
“Kamu mau kemana Nan?”. Kak Ely bertanya menyelidik.
“Aku mau belajar bersama Bagas kak”. Aku gugup menjawab pertanyaan kak Ely.
“Benar?, jangan pergi ke sungai lho?”.
“Iya kak, kan aku udah janji nggak main ke sungai lagi”.
“Ya sudah,jangan pulang sore lho”. Aku membalasnya dengan anggukkan mantap.
            Aku berlari menemui Bagas yang sudah menunggu di pos kamling, “Kamu lama sekali Nan”. Bagas terlihat bosan menungguku.
“Hehe..maaf, kamu piker minta izin dengan kak Ely gampang apa?”.
“Ya sudah ayo ikut aku”. Bagas beranjak berjalan menuju tempat tujuan, aku terus mengikutinya dari belakang,naik turun area persawahan, aku terpukau melihat pemandangan pegunungan di hadapanku. “Kita mau kemana sih Gas?”. Aku terus mengikuti Bagas dari arah belakang.
“Ikuti aku saja”. Aku hanya mengangguk.
            Bagas membawaku kesebuah tempat yang tandus dan kering,pepohonannya juga sudah tidak ada, banyak hasil pembakaran di situ, pembukaan lahan besar-besaran “Ini sangat berbahaya Gas”. Aku masih tercengang melihat semua itu.
“Kinan cepat sembunyi di sini”. Aku segera bersembunyi dibalik semak-semak, aku melihat banyak orang yang menebang pohon dan membakar sebagian lahan, “Kinan coba lihat,bahkan di sana ada pak lurah juga”. Bagas menunjuk keramaian orang yang sedang menebang pohon, hatiku terasa sengit ketika melihat semua ini.
“Ayo Kinan kita pergi,kita lihat yang selanjutnya”. Aku kembali mengikuti Bagas, dan tibalah disebuah jembatan yang menghubungkan desa ke kota, dan tepat di hulu sungai aku melihat banyak sekali limbah dan sampah dari kota, hatiku semakin terasa sengit.
“Ini tidak bisa dibiarkan Gas, sungai kita bisa tercemar dan banjir”.
“Iya Nan, tapi apa yang harus kita lakukan, kita terlalu kecil untuk melawan orang-orang itu”.
“Apa kita lapor ke polisi saja Gas?”.
“Aku sudah mencobanya Nan, sepertinya polisi itu dibayar oleh orang-orang kota”.
            Aku dan Bagas hanya berdiam diri diatas jembatan, masih berfikir apa yang seharusnya dilakukan, tapi hari sudah semakin sore Aku dan Bagas harus segera pulang, kalau tidak kak Ely bisa habis-habisan memarahiku, akhirnya kami segera bergegas untuk pulang.
            Benar saja, setibanya di rumah kak Ely sudah menghadangku di depan pintu sambil menggendong Ayla yang tertidur pulas, “Pasti kamu main ke sungai,iya kan?”. Kak Ely menghadangku dengan tuduhan tajam.
“ Tidak kak, aku dan Bagas memang benar-benar belajar”.
“Belajar kok sampe maghrib, sudah masuk sekarang sebentar lagi hujan”.
Aku mengindahkan kata-kata kak Ely dan segera masuk rumah.
***
            Kenapa aku ada? kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
Malam ini aku terisak di jendela kamarku, aku ingat sekali detik-detik kejadian yang menimpaku,perih sekali di dasar hati, aku rindu keluargaku sedang apa mereka?.
Sesekali aku mengusap air mata yang terus meleleh dipipi, Koran berita kejadian itu masih aku pajang rapi di dinding kamarku, mengingatkanku tentang orang-orang serakah yang membuat tuhan marah hingga kejadian itu terjadi.
 Dan aku masih bertanya kenapa aku ada di dunia ini?
***
            Malam ini hujan turun sangat deras, entah kenapa Ayla menangis kencang, perasaanku juga tidak enak aku menutup rapat-rapat jendela kamrku petir di luar terdengar keras, kali ini aku tidak bisa melihat bintang di langit warna hitam pekat menutupi semuanya.
Aku mencoba menenangkan Ayla yang berada digendongan kak Ely, kak Ely juga terlihat cemas.
“ Kak Ely kenapa?”. Aku bertanya sambil memindahkan Ayla ke gendonganku.
“Semoga Ibu cepat pulang, dan tidak terjadi apa-apa?”. Kak Ely masih terlihat cemas sambil mondar mandir. Aku mecoba menidurkan Ayla, hujan di luar masih sangat deras.
            30 menit kemudian, Ayla sudah tidur pulas digendonganku, hujan diluar masih deras, jam menunjukkan pukul 22.00, mataku sudah terasa berat, kak Ely masih cemas menunggu kepulangan Ibu. “Kak aku tidur dulu ya?”, sambil mengusap mataku yang lelah.
Kak Ely hanya mengangguk raut mukanya masih cemas, aku segera bangkit dan bergegas menuju kamarku “ Semoga tidak ada apa-apa ya Allah, aammmiinn”. Aku segera menutup mata lelahku sambil memeluk Ayla di sampingku.
***
            Aku mendengar Ayla menangis disampingku, aku terbangun sedikit melirik ke ararh jam dinding pukul 23.55, hampir tengah malam, aku kaget melihat Ibu yang sedang mencoba menenangkan Ayla, “Ibu sudah pulang?”. Ibu tersenyum ke arahku.
“Tidur lagi Kinan, biar Ayla tidur bersama Ibu,jangan lupa berdoa?”. Ibu beranjak keluar dan mencium keningku, hujan di luar masih deras, malam itu tidurku sudah tidak nyenyak persaanku tidak enak, aku mencoba memejamkan mataku kembali. Tapi, tidak bisa aku melirik jam tepat pukul 12 malam, perasaanku semakin cemas, dan tepat pukul 12 malam itu suara gemuruh air terdengar dari kejauhan, terdengar kentongan dari pos kamling berbunyi menyeruak “BANJIRRR…BANJIRRR…”. Aku mendengar suara orang berteriak dan berlari.
Aku takut, aku berlari menuju kamar kak Ely, “Kinaaannnnnn, ayo keluarrrrr”. Kak Ely menyeretku berlari ke luar.
“BANJIIIIIRRRR…BANJIIRRRRR”. Aku terpontang panting, aku melihat air bah itu datang tinggi seakali “KAAAKKKKK EELYYYYY”. Genggamanku terlepas dari tangan kak Ely, aku terjerambab “KAK ELYYYYYY”. Air bah setinggi 5 meter itu menghempas tubuhku,badanku hanyut, terpontang-panting menabrak bangunan rumah,berkali-kali aku mencoba meneriakkan nama Ibu dan Kak Ely tapi tidak bisa, aku merasakan air itu masuk kedalam hidungku, arusnya sangat deras dan masih terasa di badanku “BRRRUUKKK”. Aku tersangkut terapit pohon besar,aku tak sadarkan diri.
***
            Kenapa aku ada? kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
Banjir bandang itu, merenggut kebahagianku, merenggut orang-orang yang aku sayangi, air mataku buncah,terpontang-panting tubuhku dipermainkn air berarus deras setinggi 5 meter itu, hingga akhirnya keajaiban itu datang, keajaiban yang tidak mungkin di dapatkan semua manusia, aku selamat dari musibah itu.
***
            Terik matahari sangat menyengat, aku merasakan badanku terasa remuk dan saikt, “Ibuu..Kak Ely”. Aku merintih kesakitan, semalam badanku terasa dingin, aku melihat di sekelilingku banyak mayat, banyak bangunan rumah yang hanyut, dan aku melihat diseberang mayat kak Ely yang terbujur kaku, tubuhnya penuh lumpur aku mengenali gelang yang dipakainya.
“Kak Elyy”. Aku terisak, badanku terasa sakit dan penuh lumpur, 2 hari 1 malam aku terjebak dintara pohon besar, bau mayat sudh menyeruak, dan akhirnya tim sar menemukankku dan segera membawaku ke rumah sakit, dan saat itu aku tidak sadarkan diri lagi.
            Aku terus merintih menyebut nama Ibu dan Kak Ely, aku juga bermimpi Ayla, dia tertawa melihatku. Aku melihat di sekitarku banyak selang yang menempel ditubuhku.
Aku melihat gurat senyum dari suster rumah sakit menyapaku “Sungguh pertolongan dari Allah,sekarang kamu sudah siuman”.
“Aku dimana?”.
“Kamu di rumah sakit, nama kamu siapa?”.
“Kii…..nnaannn”. Aku menjawab pelan.
“Kinan? Nama yang bagus, sekarang kamu istirahat dulu ya?”. Aku hanya mengedipkan mataku.
Tubuhku masih terasa lemas dan sakit, kepalaku ternyata botak,banyak jahitan, aku tanya dengan dokter katanya kepalaku dimakan air sehingga aku harus di jahit.
***
            Kenapa aku ada? kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
Airmataku terus menetes, waktu itu stasiun televisi sedang gencar-gencarnya memberitakan banjir bandang itu, yang merenggut hampir semua orang di desaku.
Dan saat itu datanglah keajaiban kembali, ternyata tim sar menemukan seorang bayi yang tersangkut di atap rumah, bayi itu Ayla adikku yang berumur 2 tahun, walaupun terluka parah tapi dia masih hidup.
Aku sangat bersyukur, tetapi disebelah adikku Ibuku sudah terkapar tak bernyawa kedua kakinya membusuk, kini aku dan adikku tidak punya orang tua, dan aku masih bertanya kembali kenapa aku ada?
***
            Kini aku sudah berangsur pulih, suster baik itu menemukan aku dengan adikku, Ayla kini juga terlihat sehat walaupun kepalanya botak seperti aku. Aku senang bisa melihat Ayla, hanya dia keluargaku yang tersisa setelah semua pergi meninggalkanku.
Kami dikirimkan disebuah panti asuhan, aku kembali sekolah seperti dulu dengan teman-temanku yang baru,seketika aku teringat Bagas dimana dia?.
Ibu panti disini sangat galak, aku sering dimarahi jika Ayla menangis aku tidak betah tinggal di panti asuhan ini.
“Kinan,kemari kamu”. Ibu panti memanggilku, aku sedang menyapu di ruang kamarku dan Ayla.
“cepattttt”. Muka garang Ibu panti sudah terlihat, aku segera berlari.
Ibu panti mengajakku ke ruang tamu, disana sudah duduk sepasang suami istri, mereka membelai rambutku dengan sangat lembut. “Nha, Kinan mereka akan menjadi orang tua angkatmu”. Ternyata aku akan diadopsi rasa senang itu ada karena aku akan mersakan punya keluarga lagi.
“ Lalu bagaimana dengan Ayla Bu panti?”. Aku menatap dalam Ibu panti.
“Maaf Kinan tapi, mereka hanya ingin mengadopsi kamu saja”.
“Kinan tidak mau berpisah dengan Ayla bu”. Aku berlari meninggalkan tempat itu, aku masuk ke kamar memeluk Ayla yang tertidur pulas, bagaimana bisa aku meninggalkan Ayla, dan malam itu aku bertekad untuk pergi dari panti asuhan ini.
            Aku segera mengemasi barang-barangku dan Ayla, aku mengendongnya dalam dekapanku, aku harus nekad mengambil makanan di rak makan panti, aku segera berlari sekencang yang aku bisa,tak peduli badanku yang kecil terhuyung akan jatuh, aku tidak mau berpisah dengan Ayla biar maut yang memisahkan.
Aku bersembunyi didalam mobil box pengangkut barang yang ada dipasar, tubuhku kecil jadi muat menyelip diantara keranjang sayuran, Ayla tertidur pulas digendonganku mataku mulai berat, aku menutup mataku rapat.
***
            Kenapa aku ada? kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
            Aku menarik nafasku berat, beban kehidupan dimulai ketika aku sudah sampai di kota, aku harus mencari pekerjaan, apa yang bisa dibuat anak kecil umur 10 tahun yang harus mengurus adiknya?, waktu itu aku memang masih kecil tapi semangatku tidak bisa diremehkan, aku tidak mau mengemis, aku bekerja menjual Koran dan mengamen.
 1 tahun lamanya aku merasakan kerasnya jalanan, bertengkar dengan preman jalan berebut sisa makanan di tong sampah dengan anak jalanan, waktu itu umurku 11 tahun dan Ayla 3 tahun, tapi Ayla belum bisa bicara, berjalan pun masih terhuyung badannya kecil tak berisi begitu juga badanku tidak ada lemak yang menempel, dan sekali lagi aku bertanya kenapa aku ada di dunia ini?
***
            Aku tersadar dari tidurku yang melelahkan, perkotaan tepat di mataku, aku segera mencari tempat untuk istirahat, Ayla menangis didekapanku sepertinya dia lapar “Sepertinya kamu lapar ya dek?”. Aku segera mengambil makanan yang berada di ranselku serta susu yang berada di termos kecil, aku memandangi setiap gedung di kota, “Aku rindu Ibu dan kak Ely”. Aku merintih sambil mendekap erat Ayla. Aku mulai beranjak dari tempat dudukku aku mencari tempat tinggal dibawah jembatan, banyak anak yang malang sepertiku, di sana aku menemukan teman baru Lala dan Udin mereka sangat baik, kita berbagi tempat tinggal Lala sangat menyayangi Ayla, Ayla juga tertawa jika bergurau dengan Lala.
“La, aku titip Ayla ya, aku sama Udin mau jualan dulu”.
“Iya Nan, aku jagain Ayla kok”. Aku dan Udin segera pergi, kami berpencar kearah lampu merah yang berbeda, aku ngamen sedangkan Udin berjualan Koran dan tisu.
            Matahari cukup terik, tubuh kumalku terduduk dibarisan kardus bekas, kami juga mengumpulkan sampah untuk dijual.
“Nan, duduk yuk”. Udin mengajakku beristirahat sebentar.
“Coba kita hitung berapa pendapatan kita hari ini”. Aku mengangguk mengiyakan.
“Wah kita dapet banyak Din, kita dapet 100 lebih nih, bisa buat beli susu Ayla”.
“Iya Nan, bisa makan enak nih”.
            Disaat kita berdua sedang menghitung uang, tiba-tiba ada preman yang mabuk menghampiri dan ingin merampas uang yang aku pegang. Langsung saja tubuh cungkring kami terjerambab jatuh, emosi Udin pun memuncak “Kembalikan uang kami”. Udin mengambil sebatang kayu.
“Eh, duit ini punya gua, lu semua harus tunduk sama gua”. Preman itu menimpali.
Tanpa banyak omong lagi Udin memukul kepala preman itu hingga pingsan, Udin mengambil uangnya kembali dan kami langsung berlari menjauh.
“Wahhh… Udin hebat”. Aku menepuk-nepuk bahu Udin.
“Siapa duluu, bang Udin gitu”. Udin menepuk-nepuk dadanya sendiri layaknya superman yang menyelamatkan kota.
“Eh, ayo kita beli makanan dan pulang Din”.
“Ayooo”.
            Jalanan berdebu, panas terik matahari sangat menyengat, aku mengusap peluh yang ada di dahi. Tubuhku sangat kumal aku segera pulang bersama Udin, aku kaget ketika Lala menghampiriku sambil menangis dan panik.
“Kamu kenapa La?”. Aku juga bertanya cemas.
“Ayla…. Ayla Kinaaannnn”. Lala terlihat semakin pank.
“Ayla kenapa?”. Lala segera berlari menyeret tanganku, aku kaget, aku melihat Ayla kejang-kejang dan memuntahkan busa dari mulutnya, “Ayla kenapa La?”. Aku semakin panik.
“Aku tidak tahu Kinan, aku sedang mengambil air minum tiba-tiba Ayla menangis dan kejang seperti ini”.
Tanpa berpikir panjang lagi, Udin langsung membawa Ayla dipuskesmas terdekat, Ayla segera dibawa di ruang gawat darurat, “Kita nggak punya uang Din”. Aku menangis.
“Tenang saja Nan, aku masih punya tabungan untuk membayar uang muka”. Udin menepuk bahuku menenangkan, aku terduduk di deretan kursi puskesmas aku masih terisak, Lala dan Udin mengamati Ayla dari kaca ruangan, aku berlari sambil mengusap airmataku.
***
            Kenapa aku ada? kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
            Malam mulai larut, tapi aku masih terisak, bintang diluar sana memandangku nanar dari balik jendela kamarku, waktu itu hampir saja Ayla meninggal jika saja Udin tidak langsung membawanya ke puskesmas. Tapi Allah itu maha adil memberikan jalannya dengan cara apapun,dibalik cobaan itu ada hikmahnya, aku menemukan keajaiban kembali aku menemukan orang baik yang dulu menghiburku.
***
            Aku berlari sekencangku,aku terjerambab disebuah taman, aku terisak dibawah pohon, sesekali aku melihat nanar situasi disekitar taman itu.
Di taman itu aku melihat seorang anak sedang bersama ayahnya bermain bersama, membuatku semakin bersedih, aku mendekapkan mukaku menekuknya dikakiku.
Ayah dan anak itu mendekatiku, “Kamu kenapa nak?”. Suara berat itu menghampiriku.
Aku mendongakkan wajahku, aku kaget melihat anak yang disebelahnya “Bagas”. Bisikku lirih.
Bagas juga melihatku tak percaya “Kinan?”.
“Kamu kenal dengan dia Bagas?”. Suara berat itu terdengar kembali.
“Dia sahabat yang sering aku ceritakan itu Yah”. Bagas tersenyum kepada laki-laki gagah itu.
“Ayah?”. Aku berbunyi lirih, “Sini Kinan duduk dulu”. Laki-laki itu mengulurkan tangannya, aku menggapai tangan itu, tangisku makin terisak. “Kamu kenapa Kinan?, Alhamdulillah kamu selamat dari banjir itu”. Bagas menatapku nanar.
“Kamu juga selamat Bagas? Aku kira kamu sudah dimakan air”.
“lalu bagaimana dengan semuanya Kinan?”.
“Ibu dan kak Ely sudah meninggal Bagas”. Aku meneteskan airmata dipipiku.
“Ayah dan Ibuku juga meninggal Kinan, lalu bagaimana dengan Ayla?”.
“Ayla selamat Bagas, tapi……..”. Aku semakin terisak, tidak mampu lagi untuk berkata.
“ Tapi apa Kinan?, Kinan ini Ayah angkatku namanya om Tegar, dia sangat baik sekali kamu bisa tinggal bersamaku Kinan”.
“ Iya Kinan, sudah lama om dan istri om tidak punya anak, Kinan mau tinggal sama om?”.
Aku menatap wajah Bagas dan om Tegar dalam, “Tapi adik Kinan sedang di rawat di puskesmas Om”.
“Ayla kenapa Kinan?”. Aku mengajak Bagas dan Om Tegar menuju puskesmas, setibanya di puskesmas aku melihat Udin dan Lala menangis, “Kinan!!”. Lala memelukku erat.
“Ayla kenapa La?”, Lala semakin terisak dalam.
“Ayla meninggal Kinan”. Udin juga memelukku erat, aku menjerit tak percaya, lengkap sudah kini kesedihankku, aku pingsan tak sadarkan diri.
***
            Kenapa aku ada? kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
Airmataku buncah kembali, Ayla satu-satunya keluargaku yang tersisa kini telah pergi, aku memang kakak yang tidak bisa menjaga adiknya dengan baik, waktu itu umurku 11 tahun, betapa banyak cobaan menimpa disaat aku kecil, tapi Allah selalu merencanakan yang terbaik dibalik kesedihan yang aku alami ada suatu jalan indah yang aku miliki, tapi aku masih bertanya kenapa aku ada di dunia ini?.
***
            Om Tegar memang sangat baik, dia yang mengurus kematian Ayla, aku sangat berterimakasih kepada om Tegar,Bagas dan tante Maria istri om Tegar.
Saat dipemakaman Bagas tetap menghiburku, aku diangkat menjadi anak om Tegar dan tante Maria, aku bercerita semua apa yang aku alami saat ini, aku melihat airmata tante Maria menetes kini aku merasakan keluarga yang lengkap kembali.
Aku kembali bersekolah, aku selalu rajin belajar hingga aku mendapat beasiswa di sekolah favorit begitu juga dengan Bagas, kami selalu kompak dengan segala hal, hingga akhirnya kami diterima di sebuah universitas di luar negeri, kami tidak mau mengecewakan Ayah Tegar dan Ibu Maria karena mereka aku dan Bagas menjadi orang yang sukses.
***
            Kenapa aku ada? kejadian beberapa tahun silam itu membuatku tak berarti, tidak ada kasih sayang yang diberikan untuk anak berusia 10 tahun terlantar dijalanan dan diremehkan, tak berarti sama sekali.
            Kini terjawab sudah kenapa aku ada di dunia ini, lewat beberapa kejadian kehidupan yang aku alami, musibah itu memberikanku sebuah pembelajaran, kenapa aku ada? Karena aku harus meneruskan hidupku, kenapa aku ada? Aku ada karena aku harus merawat Ayla disisa hidupnya,kenapa aku ada? Aku ada karena aku harus berjuang untuk hidupku, kenapa aku ada? Aku ada untuk menemukan keluarga baru yang sangat baik kepadaku, dan kenapa aku ada? Aku ada karena maha besar Allah yang telah menentukan jalanku untuk mencapai kesuksessanku, aku ada untuk keluargaku,aku ada karena aku yakin semua itu akan indah pada waktunya,
            Umurku kini 23 tahun,dan sekarang aku telah tau jawaban dari kehidupanku, aku beranjak dari jendela kamarku,mengusap semua airmataku dan kini gurat senyum yang terukir diwajahku.

Karya : Nanda Kun (IPPNU Komisariat SMK Ma'arif Walisongo Kajoran)

Sabtu, 07 April 2018

Pilih Cadar atau Konde?
sumber : istimewa
Pagi tadi kelas masih sunyi. Hanya ada aku dan satu orang temanku di kelas. Suasana masih sangat sepi. Kira-kira pukul 06 lebih, namun sekolah kami masih belum banyak siswa yang berangkat.


Tatkala aku melihat wall di akun facebook ada gambar yang menarik, yakni pertanyaan pilihan antara cadar atau konde. Aku pun sempat iseng bertanya kepada kawanku tersebut.

"Menurutmu ini bagaimana? Kamu pilih cadar atau konde?" Tanyaku padanya.

"Ya, jelas pilih cadar" jawab ia dengan santai.

Sebenarnya tidak maslah, semua orang memiliki hak untuk memilih. Akan tetapi, coba kita pikir lebih mendalam lagi. Indonesia adalah negara kultural, ribuan atau bahkan jutaan budaya berkembang di tanah Nusantara ini. Indonesia tidak hanya ada satu agama saja, melainkan bermacam-macam agama dan kepercayaan ada di sini. Namun beratnya menjadi manusia adalah, terkadang seseorang tidak mau menghargai segala perbedaan yang ada. Padahal, perbedaan itu diciptakan oleh Tuhan agar kita saling mengenal dan bersatu demi merajut tali persaudaraan.

Konde atau Cadar ?

Sebenarnya berat aku katakan ini. Tetapi dari hati kecilku memberontak. Aku memilih konde, bukan cadar. Kalaupun aku mengagumi wanita-wanita yang bercadar, akan tetapi aku lebih cinta kepada wanita-wanita yang berkonde. Kenapa? Lihatlah betapa anggunnya wanita indonesia. Betapa eloknya tusuk konde yang dikenakan di rambut hitamnya yang indah itu walau itu tidak menutup aurat (dalam Islam). Tapi, inilah negeri kita, jangan hanya menilai luarnya saja, akan tetapi nilailah hatinya, ketulusannya dan keramahannya. "Inilah Indonesia, bung. Jangan lupa bahwa jaman perjuangan dahulu kala wanita Indonesia berkonde, bukan bercadar. Berkerudung, bukan bercadar".


Aku bukan bermaksud membandingkan cadar dengan konde, bukan juga bermaksud membenci atau menjelekkan salah satu dari keduanya. Tapi lihatlah, ini indonesia, dan inilah ciri khas wanita Indonesia. Sekilas hampir sama dengan cadar. Cadar budaya Arab, ciri khas bangsa Arab.


Intinya, kita boleh saja mengagumi budaya asing. Tetapi, cintailah budaya negeri sendiri. Kita boleh saja beranjak ke negeri asing, tetapi jangan pernah sesekali lupakan negeri sendiri. Karena terkadang, rumput tetangga terlihat lebih sejuk, hijau nan elok dibanding rumput sendiri.


Selamat datang di Indonesia.

Negeri dimana wanita berkonde berjalan elok kesana kemari 

Dengan lantunan suara halus lembut dan mempesona luluhkan hati.


Selamat datang di Indonesia

Negeri 1001 budaya 
Negeri mempesona, pelangi katulistiwa.


Salam Damai Selalu Negeriku !



Vinanda Febriani. Borobudur, 7 April 2018.

Selasa, 27 Maret 2018

VANQUISH EMOTIONS (Menaklukan Emosi)
behejsrdcem.com

“Dunia Diciptakan Bukan Untuk Orang Yang Lemah”

Aku tak pernah tahu apa arti mengerti dan memahami,rasa egois dan menang sendiri selalu ada didalam diriku,hingga aku tidak tahu ternyata jalan yang salah yang kupilih.

     Aku lebih memilih hidup dengan segala kemauanku sendiri,sekolah,teman,belajar,semua sudah tidak kupedulikan. Sejak keluargaku hancur,aku tidak tahu arah mana yang akan kutuju,ayah meninggalkan aku,ibu dan adikku. Rasa dendam ini memuncak ketika ayah menceraikan ibu dan memilih dengan wanita lain,hal sepahit itu aku rasakan ketika aku berumur 10 tahun,

     Dan hidupku berubah ketika aku menemukan seseorang yang bisa merubah hidupku,seseorang yang memberikan suatu kepercayaan yang besar kepadaku.
***
     Namaku Bintang Pratama,umurku 17 tahun,sungguh masa remaja yang kelam,tak seperti cita-citaku ketika aku masih kecil,aku masih sekolah disebuah SMA Swasta di Magelang.

      Aku berjalan menyusuri koridor sekolah,penampilanku tak pernah rapi semua semauku,mungkin semua anak disekolah ini sudah tak peduli denganku bahkan muak melihat tingkahku yang setiap hari hanya bolos,mangkir,usil dan sebagainya.

      Aku sengaja berangkat pagi hari ini,tidak seperti biasa yang selalu telat,aku punya misi tersendiri yang harus kuselesaikan. Lorong sekolah masih sepi,aku hanya melihat beberapa murid yang sudah masuk kelas,aku terus berjalan sambil mengawasi kondisi sekitar,terlihat dipojok koridor,seorang anak perempuan dengan kacamata minus dan buku ditangannya,tatapan matanya tetap terlihat tajam walaupun terhalang kacamata,dia selalu berdiri disana,dia bernama Vela anak itu selalu menatapku tapi bukan tatapan seperti halnya anak-anak jaman sekarang yang selalu terobsesi dengan cinta,menjijikan. Tatapan nanar yang dipancarkannya seperti bermakna banyak.

      Aku segera berlari menuju belakang sekolah,gelap.Belakang sekolah langsung berhadapan dengan perkebunan warga yang rumpek,cara mudah juga untuk membolos bersembunyi dibalik dedaunan pohon pun tidak akan ketahuan.

“Hi Tang?” Suara berat itu menyapaku. Aku menyapanya hangat.
“Mana barangnya?”. Edo menyodorkan barang tersebut.
“Eitsss….. duit duluu”.
“Santai aja kali boy,ntar malem kita pesta bersama,gue yang traktir”. Edo menepuk bahuku,aku tahu  dia mabuk pagi ini,bau alkoholnya menyeruak hidungku.
“Tang,loe mau bolos nggak,kalo iya gue tunggu di base biasa”.
“Oke boy”. Aku segera menyembunyikan barang itu didalam tas yang sudah aku buat kantung didalamnya,aku segera berjalan meninggalkan tempat rumpek ini. Sekilas aku melihat diarah pintu toilet,mata tajam itu menatapku,aku segera berlari menghampirinya.
“Hey tunggu “. Aku berlari mengejarnya.
“Loe tadi nguping yaa”. Aku berhasil menyeret tangannya.
“Lepasin aku,aku nggak nguping”. Vela terus memberontak.
“Loe nggak usah bohong,loe tadi nguping gue sama Edo kan?”.
“Iya,aku tahu apa yang kamu sembunyikan didalam tas kamu, aku akan tutup mulut  jika kamu mengabulkan permintaanku”.
“Hahaha,tau apa loe tentang gue haa?”.
“Aku tahu semua,barang yang ada didalam tasmu, itu ganja kan?”.
            Sontak aku kaget,”Kok loe bisa tahu?”.
“Aku akan tutup mulut kalau kamu mau mengabulkan permintaanku”.
“Oke,oke..mau loe apa?”.
“Kamu harus jadi temenku”.
“Cuma gitu aja?nggak minta ganja juga?”.
“ihh..najis,tapi ada satu syarat,kamu harus ikut apa kataku”.
“Kok jadi gitu, ini nggak fare namanya”.
“Ya udah kalau nggak mau,liat aja sore ini kamu bakal di indoor sama polisi”.
“Ehh, oke..oke… gue bakalan ikut semua apa kata loe”.
“Sore ini kita ketemu disamping sekolah,dan satu lagi buang tu barang haram”.

            Vela berjalan pergi meninggalkanku,entah apa maksud dari semua ini,dia memintaku menjadi temannya,sikapnya begitu dingin dan sulit ditebak tapi kenapa dia meminta aku menjadi temannya,aku terus bertanya-tanya sepanjang koridor sekolah.
Aku berjalan menuju kelas,hari ini nggak ada jadwal bolos,nggak ada pelajaran matematika yang memalaskan,aku menyapu mata kesemua koridor sekolah gadis dingin itu masih menatapku tajam.
***
            Sore sudah menampakkan matahari agungnya,semburat jingganya Nampak menawan,
Siluet dari gedung-gedung menambah kesan dramatis sore ini,aku berjalan terpatah-patah menuju bangku taman samping sekolah. Sebenarnya apa yang akan dilakukan si Iced Gril ini,Aku menyapu seluruh taman gadis itu belum terlihat batang hidungnya.
Aku mengambil sepuntung rokok dari saku bajuku,aku mulai menghidupkan korek, “huuuhhhhh”.
Api pun padam “Kalau kamu jadi temenku,jangan pernah ngrokok dihadapanku”. Gadis itu meniup korek yang aku hidupkan. “Nih aku kasih”. Gadis itu menyodorkan permen dengan pita manis dibatang permen itu.

“Permen?”.
“Yaa, rasanya nggak kalah manis dengan asap yang selalu kamu hirup”.
 Aku mengambil permen itu dari tangan mungilnya.
“Apa maksud loe nyuruh gue jadi temen loe?”.
“Karena aku nggak punya teman dan nggak ada yang mau jadi temanku”.
“Kenapa?”.
“Karena aku berbeda,dan kamu juga berbeda dari anak yang lainnya”.
“Apa yang ngebedain gue sama yang lain?”.
“Karena kamu seorang pecundang yang tidak mau dibilang pengecut”.
Aku langsung memicingkan mataku kearah gadis sok tahu ini,memang apa maksudnya, 5 detik yang lengang aku mencoba menahan emosi ketika dia mengatakan seperti itu.
“Aku tau kamu emosi aku bicara seperti itu,kita itu sama Bintang,aku juga dari keluarga yang Broken home tapi caraku menyelesaikan masalah ini nggak seperti caramu”.
“Jadi,loe Cuma mau menghina gue disini”.

Vela hanya tersenyum tipis kearahku “Kamu tau, kenapa air dan tebing tidak akan berpisah walau air selalu mengikis tanah tebing itu?”.

            Aku hanya menatapnya nanar dan penasaran apa maksud perkataannya,”Kenapa”.
“Karena,sahabat sejati tidak akan meninggalkan walau sering menyakiti,dan juga kita harus tetap kuat walau masalah sering mengikis hidup ini,kita punya masalah masing-masing yang mungkin memberatkan dihidup kita,aku tau kamu anak yang baik,maka hadapi semua masalah dengan hal yang positif”.

      Aku hanya tertegun dan berfikir sambil menghela nafas panjang…
“Mungkin hari ini sulit,atau mungkin esok akan lebih sulit lagi bahkan hancur,tapi tidak ada usaha yang sia-sia dan jangan tunjukkan bahwa kamu lemah,karena dunia diciptakan bukan untuk orang yang lemah”.

     Aku hanya bisa menahan sesak didada,kata-kata itu sangat mengenai hatiku,tak terasa airmataku mengalir dipipi. Apa yang aku perbuatt selama ini,setelah ayah meninggalkan keluargaku aku hanya menyusahkan ibu,yang membanting tulang setiap hari untuk sekolahku dan adikku, “Dunia Diciptakan Bukan Untuk Orang yang Lemah” kata-kata itu masih terngiang dipikiranku,apa yang aku lakukan selama ini aku hanya mabuk,bersenang-senang tanpa memikirkan perjuangan orangtuaku.

  “Hari sudah semakin sore,aku pulang dulu ya Tang,terimakasih sudah mau menjadi temanku,semoga Tuhan masih mengizinkan aku untuk selalu menjadi temanmu”. Vela menepuk pundakku dan beranjak pergi. “Velaaaaaa!!”. Aku berlari mengejarnya,”Terimakasih atas semuanya”. Vela hanya tersenyum kearahku,mata tajamnya memicing indah.

       Matahari sudah tak mau memunculkan sinarnya lagi,sore ini akan menjadi saksi dan bukti bahwa aku akan merubah segalanya dalam hidupku.
***

      Pagi,dan kini pagi adalah waktu yang indah dalam hidupku,dimana aku harus merencanakan janji-janji baru  dan sebuah harapan yang baru.

      Aku segera bergegas menuju sekolah,tak lupa aku mencium kedua tangan Ibu,hal yang selalu aku tinggalkan,Ibu tampak tersenyum senang,mungkin Ibu berpikir anaknya yang berandalan kini menjadi sopan. Aku akan meninggalkan dunia kelamku mulai pagi ini,hidup cerahku kembali. Walau akau harus meninggalkan komunitas street art dan punk,tapi aku tidak akan melupakan mereka yang memberikan arti kehidupan yang sebenarnya.

  Koridor sekolah sudah ramai pagi ini,anak-anak disekolah seperti memandangku tak biasa,pakaianku yang rapi serta rambutku yang tidak arukan lagi,sepanjang pelajaran aku menyimak semuanya,walau kadang serasa bosan tapi aku ingat kata-kata itu lagi “Dunia Diciptakan Bukan Untuk Orang yang Lemah” nama Vela terngiang begitu saja,pagi ini aku tidak melihat gadis mungil itu,dipojok koridor,aku mulai resah memikirkannya.

       Jam istirahat pun berbunyi,aku segera bergegas menghampiri kelas Vela yang ada dilantai bawah kelas XI IPA 1,aku menyapu seluruh isi kelas, tidak ada gadis berkacamata itu.
“Loe tau Vela nggak?”. Aku bertanya kepada Eka teman sekelas Vela.
“Emang kamu nggak tau”.
Aku menggeleng cemas…
“Vela ada dirumah sakit,dia punya kanker otak dikepalanya,sudah lama sejak dia kelas 1 SMP”.

        Tanpa panjang lebar lagi,aku segera bangkit menuju rumah sakit,malaikat itu kini terkapar lemah tak berdaya,30 menit yang melelahkan melawan rasa cemas dan lalu lalang kendaraan. Reseptionis rumah sakit itu mengantarku sampai keruangan Vela. Selang infus dan belalai-belalai medis itu terpasang ditubuhnya,gadis mungil itu ternyata sangat kuat menahan semua cobaan.

   Air mataku mengalir,wanita separuh baya mendekatiku dan mengelus pundakku,”Kamu Bintangkan?”.
“Iya tante”.
“Saya Mamanya Vela,Vela sudah cerita banyak tentang kamu,ayo ikut tante masuk”.
            Aku berjalan terpatah-patah menuju tempat gadis mungil itu terkapar,wajahnya pucat pasi tak seindah matahari terbenam sore itu. Vela terbangun dari tidurnya.
“Bin…Tang?”. Aku meraih tangannya yang dingin.
“Iya,ini aku Vel”.
“Kamu bolos sekolah yaa?katanya mau berubah?”. Suaranya  terdengar serak dan berat.
            Aku hanya menatapnya nanar,dan membalas senyum tipisnya.
“Terimakasih…kamu sudah mau menjadi temanku,aku tau memang berat masalah dihidup ini tapi kamu harus tetap kuat Vel”.
Vela hanya membalas senyum tipis.”Semua yang bernyawa didunia ini pasti akan diambil oleh pemilik-Nya,begitu pula aku,aku senang hidupku bisa bermanfaat bagi orang lain,jadi apapun yang terjadi kamu harus selalu tegar,dan kamu harus berusaha menjadi bintang dilangit,ingat DUNIA DICIPTAKAN BUKAN UNTUK ORANG YANG LEMAH”.
“Iya Vel aku akan sealalu ingat semua itu,tapi aku mohon kamu jangan pergi”.
            Vela tersenyum manis kearahku,gadis mungil itu perlahan menutup mata sipitnya,hembusan nafasnya terdengar tenang tergurat senyum indah dipipinya. Kini malaikat itu telah pergi dengan tenang,seketika air mata terpecah detak jantung terasa berhenti,kini aku tau makna mengerti dan memahami,lewat malaikat kecil ini aku tau makna kehidupan.
***
5 Tahun Kemudian…….
            Predikat mahasiswa terbaik diberikan kepada Ananda BINTANG PRATAMA,seluruh tamu hadirin bertepuk tangan,aku segera berlari menuju podium,aku melihat kearah Ibu yang tersenyum senang kearahku. “Terimaksih semuanya,terimakasih kepada Tuhan yang sudah memberikan keadilannya,terimakasih kepada Ibu yang selalu ada disampingku,tak lupa kepada Vela teman terbaikku,semoga kamu tenang dialam sana,dan terimakasih kepada semuanya. Aku senang kini dunia kelamku sudah berubah,banyak yang aku dapatkan dalam kehidupan ini tentang arti mengerti dan memahami,aku selalu teringat dengan sebuah kata-kata bahwa DUNIA DICIPTAKAN BUKAN UNTUK ORANG YANG LEMAH,itu adalah kata-kata yang selalu membuatku semangat, dan Terimakasih semuanya”. Suara gemuruh tepuk tangan terdengar kembali,air mata bahagia ini tidak bisa dibendung lagi aku memeluk Ibu erat,seakan rasa bahagia ini tidak akan pudar.
            Setelah berfoto wisuda bersama,aku segera berlari menuju sebuah tempat,dimana aku mendapatkan seorang teman terbaik,malaikat yang membawaku kepada sebuah perubahan kehidupan
            Kini aku tahu sebuah arti mengerti dan memahami dalam kehidupan,walau sulit diucapkan dengan kata-kata,karena kaulah titik dimana aku mengerti perubahan tersebut.
Kini aku akan menjadi Bintang dilangit,bukan lagi Bintang kecil yang kelam dibumi,terimakasih sahabat kau telah membimbingku menuju masa depan yang lebih terang”
Bintang Pratama


Karya : Nanda-kun